Posted in Goresan Sastra Sang Pelangi, Jejak Pelangi

Kasih Sayang Bunda Sepanjang Hayat

Dia mengandung sembilan bulan lamanya. Penuh dengan pengorbanan jiwa dan raga untuk melahirkan kita. Tak harapkan balas budi hanya untuk membesarkan kita. Tak peduli panas dingin yang mendera hanya untuk melindungi kita. Tetesan berjuta darah mengalir dan rintihan pilu hanya untuk menyelamatkan nyawa kita. Tersenyum bahagia melihat kita menangis terisak-isak melihat dunia dan berkata, “Bayiku selamat, terima kasih Tuhan.”

Setelah kita dewasa, dia menangis pilu melihat tingkah kita. Sedih dan gundah menyaksikan perlakuan kita padanya. Walaupun hati sakit, tapi dia tetap tegar dan selalu mengulurkan tangannya yang hangat untuk kita. Setiap malam dia terbangun, meneteskan air mata kesedihan dan memohon pada Tuhan, “ Ya Allah, ampunilah dosa anakku, lindungilah dia setiap pijakan di bumi ini, jauhkanlah dia dari setiap perbuatan yang Engkau murkai. Amin…” Rutinitas yang dia lakukan tanpa lelah.

Setiap pagi dia selalu menyiapkan kebutuhan kita. Bangun terlampau pagi ketika orang-orang terlelap. Bekerja penuh keikhlasan hanya untuk membuat kita bahagia. Ketika dia meminta bantuan pada kita, karena usianya tlah renta dan keriput halus diwajah mulai tampak, apakah jawaban kita, “Ah..nanti dulu, lagi asyik nih nonton TV, ah..males ah.., lagi sibuk nih!” Tapi dia tak keberatan dan dengan sangat hati-hati dia kerjakan semuanya.

Suatu hari, dia terbaring lemah tak berdaya, mulutnya serasa memanjatkan doa, air matanya membasahi pelupuk mata, dan memandang samar-samar sekeliling. Saat itu dia merasa kesepian, merasa diacuhkan, merasa dicampakan. Buah hatinya menghilang dari gengamannya. Hanya satu keinginannya, ketika usianya menapak jauh, tua renta terkulai lemas, hanya ingin satu saja.. buah hatinya menemaninya, menepis sepi yang menyelimuti. Hingga hari itu datang, dia tak kuasa menahan rasa sakit dalam tubuhnya, seberkas cahaya merenggut jiwa dan raga ini melepaskan dengan ikhlas, serta mata terkatup untuk selama-lamanya.

“ Bunda… “,jerit kita menyaksikan pemandangan yang sangat memilukan dan menyayat hati. Terlambat! Dia sudah jauh meninggalkan dunia, terbang menjauhi cakrawala, hilang dari pandangan. Hanya isak tangis yang terdengar. Penyesalan tiada guna.

Manakah kasih sayang kita padanya? Manakah rasa terima kasih kita padanya? Walaupun dia tak meminta itu semua dari kita, walaupun harta kita di dunia tak dapat menggantikannya, sempatkanlah waktumu untuk menemaninya. Dengan meluangkan waktu kita bersama bunda kita tercinta, dia sudah sangat bahagia. Dia sangat bahagia melihat kita tumbuh besar, berbakti pada orang tua, dan menjadi anak yang sholeh.

Teman-temanku, bunda kita, ibu kita, mama kita, emak kita hanya satu di dunia ini, janganlah kalian sia-siakan dia, jangan sampai kita terlambat untuk mengakui hanya dia dihati kita setelah Tuhan, jika hal itu terjadi hanya tangisan penyesalan yang menyelimuti. Sekarang, berlarilah dalam pelukan bunda, dan ucapkan, “Aku sayang bunda, terima kasih atas semua kasih sayang dan pengorbanan bunda selama ini.” Minta maaflah atas semua kesalahanmu selama ini, entah itu kita bandel, keras kepala jika bunda kita menasehati, menganggap remeh bunda, dan semua macam kesalahan kita.

(Aku menangis ketika menulis semua kata-kata yang tertuang dalam tulisan ini. Karena aku sangat rindu, mamaku yang jauh di sana. Rindu akan kasih sayangnya, rindu akan nasehatnya, rindu akan belaiannya…)

Advertisements

Author:

I enjoy writing, capturing pictures, learning new things and online media. I am a person who always want to increase my knowledge by continue learning, being creative and thinking out of the box, a hard-worker, responsible, full of spirit, cheerful, discipline and committed. Specialties Writing, Blogging, Photography, Online Journalits, Creative Concept, Research, Social Media Planning and Contents, Entrepreunership, Web editorial, Web Content

6 thoughts on “Kasih Sayang Bunda Sepanjang Hayat

  1. we-a-we ^^

    duu, dari pnulisan beta ini, gw jadi brlinang-linang air mataku, maunya sih crying but gw malu aa ngluarin tangisan yang menetes di pipiku krena swktu ku membaca tulisan tsb, aku lg hotspotan d batang F, FISIP-UI. byk lalu lalang orang di sini. walaupun ga kenal tp kan mereka pada ngliat ya cuma sekilas gt. nah kalo ada yang kenal, mreka pada nyapa, aku pun nyapa balik. seandainya ku baca tulisan tsb d suatu tmpat yang tida ada orang, mungkin aku akan mngeluarkan my tears!!

    😥 –> simbol tangis nih

  2. assalmkum…
    wduuh mbak,bgus bnget tulisan mb beta. aq trharu+smkn semngat stLah bca tuLisan itu. Aq trharu+smngat krn aq ingin bundaq mLihatq tumbuh jd anak yg berhasil,mmpu mnjunjung nama kLuarga,shalih,dan jd anak yang berbakti pd orngtua.itu smw adalah impian&7an hidupq..
    thx mb y.It gives me many inspiration.

  3. gw jd inget..setelah baca blog u be..
    harusnya hari ibu ituh tiap hari ya be..

    Gw mencium tangan kedua orang tua gw, ada sedikit sedih dihati gw.coz. tangan papa mama gw udah gak sehalus dulu lagi, gw pun udah bisa ngerasain kulit keriput di tangan mereka..tp gw lum bisa ngasih apa2 ke ortu w..

    I LOVE MOM

  4. Kasih Ibu memang sepanjang hayat. Kita sebagai anak ga akan bisa membalas kebaikan beliau yang udah sabar membesarkan kita dengan tulus, dengan penuh kasih sayang…

    TT_TT

  5. y ampun,,,nangis w baca cerita ini…
    y bunda kita cm 1 di dunia ini,,jd jgn kita remeh mereka..klo tidak ad mereka ap munkin kita jg ad,,

    oh bunda,, maf’fin nanda ea..yg selama ini selalau membantah,perintah bunda,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s