Posted in Celoteh Pelangi, Jejak Pelangi

Acara Wajib Tiap Tahun : Trah Keluarga Besar a.k.a Halal Bihalal

Finally bisa nulis blog lagi. Iya… menyempatkan nulis blog ditengah kerjaan menumpuk di kantor ternyata agak susah ya. Ini juga karena harus bedrest nggak ada kerjaan, jadinya buka laptop dan nulis blog deh. Tapi di bulan September ini, aku akan usahakan untuk rutin menulis blog.

Postingan ini sebenarnya postingan untuk bulan Agustus 2014 kemarin dan akhirnya bisa terpublish hari ini. Tentang suatu budaya tiap tahun ada saat Lebaran, namanya trah-trahan (di Jawa) atau Halal Bihalal istilah umumnya. Setiap tahun wajib pulang ke Klaten (rumah orang tua) dan kumpul keluarga besar. Dan tiap tahun juga rasa bosan menyeruak ketika ikut trah-trahan (jujur aja nih), kenapa? Karena isinya ya itu-itu terus dan gak inovatif, padahal anak cucu mereka tumbuh dan berkembang, harusnya diciptakan sense of belonging ketika datang ke acara trah-trahan.

10514212_10204711887980088_8542730320720624390_o

Pastinya yang tinggal di daerah Jawa, pasti tiap tahun juga merasakan acara trah-trahan. Oke, yang ngerti bahasa Jawa Kromo Inggil nggak masalah ya, tapi kalo sodara-sodara yang tinggal di luar pulau Jawa atau nggak di daerah Jawa Tengah atau Timur, pastinya skill bahasa Jawa Kromo Inggil mereka pasti kurang. Belum lagi pengisi acaranya itu-itu aja tiap tahun. Aku menulis ini karena Lebaran tahun kemarin puncaknya aku ngantuk banget dan nggak merasakan “meaning” ikutan trah-trahan ini.

Alangkah baiknya jika para sesepuh memberi kesempatan kami yang muda untuk meneruskan acara trah-trahan ini. Oke, maksudnya, kita nggak akan menghilangkan main event, yaitu sesepuh untuk berceramah, tetapi seperti susunan acaranya, trus panitianya, coba dong buat trial, yang bikin remaja-remaja dari tiap kepala keluarga.

Konsep lama trah-trahan itu seperti ini. Acara biasanya jam 10 – 2 siang. Isinya dengerin ceramah sesepuh, trus ramah tamah, salam-salaman, dan makan-makan. Udah selesai. Trus kapan kita kenalan sama sodara-sodara dari kakek nenek kita? Masa yang nyambung ngobrolnya cuman ortu kita aja. Lha anak-anaknya pada bengong, cuman asyik sama sodara-sodara 1 nenek aja, nggak eknalan sama sodara adiknya nenek atau kakaknya nenek.

Konsep baru trah-trahan versi-ku seperti ini. Okay, acara tetap menjelang siang, tapi dipadatkan ya paling lama 2,5 jam-lah. Acara intinya, tapi abis ini mau ngobrol-ngobrol sampe berapa jam ke depan monggo silakan. Misalnya acara pukul 11.00 – 13.30. Panitia yang ngurus adalah rumah yang dijadikan acara trah-trahan. Jadi usahakan anak-anaknya yang ngurus walaupun tetap didampingi bude, pakde, dan tante om yang sudah berpengalaman. MC-nya juga dibuat dwi bahasa a.k.a bilingual, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Pastinya di dalam satu keluarga besar ada yang menetap hidup di Jawa yang bahasa Kromo Inggrilnya expert dan ada yang udah melanglangbuana jadi pake bahasa nasional.

Isi acaranya juga harus variatif : Sambutan dari yang punya acara (pakde atau bude anak pertama dari keluarga besar), Sambutan dari Sesepuh terutama berkaitan dengan Lebaran dan acara Halal Bihalal, diteruskan pembacaan Al-Quran (bisa dari remaja atau mantu-mantu) lanjut Hot News ( ini isinya berita terbaru seperti siapa yang baru nikah dikenalin, trus yang baru lulus kuliah, atau yang baru dapet kampus baru, baru kerja, bahkan yang baru punya anak atau nambah anak), setelah itu lanjut ice breaking (bikin games kecil-kecilan di mana anak-anak muda dari berbagai keluarga besar, perwakilan aja 1-2 orang buat ikutan games, hadiahnya angpao), masuk acara hiburan misalnya yang pinter main gitar siapa? versi accoustikan nyanyinya lagu-lagu pop atau jazz, acara yang paling dinanti yaitu makan-makan, dan terakhir salam-salaman (ini diberitahukan di depan kalau wajib salam-salaman, sambil kenalan, nanti ada games terakhir tebak nama hadiahnya angpao lagi deh), setelah itu acara photo session tiap keluarga besar.

Gimana? Acara yang super padet ini bakal lebih berkesan daripada acara yang diisi sama hal monoton yang bikin ngantuk dan pesannya nggak nyampe terutama sama penerus-penerus mereka kayak kita-kita ini. Trus, pasti ada pertanyaan? Gimana caranya buat menyatukan panitia-panitia ini? Pasti kan pulang kampungnya beda-beda? Lha terus apa gunanya ada internet, whatsapp group, atau facebook? Gunakan dong teknologi canggih ini buat diskusi atau rapat-rapat kecil. Hehehe 😀

Semoga trah-trahan tahun depan lebih semarak dan lebih menarik tentunya.

Advertisements

Author:

I enjoy writing, capturing pictures, learning new things and online media. I am a person who always want to increase my knowledge by continue learning, being creative and thinking out of the box, a hard-worker, responsible, full of spirit, cheerful, discipline and committed. Specialties Writing, Blogging, Photography, Online Journalits, Creative Concept, Research, Social Media Planning and Contents, Entrepreunership, Web editorial, Web Content

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s