Posted in Goresan Sastra Sang Pelangi

KETIKA BUMIKU MENANGIS

Dahulu…

Keteduhan menyelimuti

Rindang dedaunan mendayu-dayu

Kicauan lantunan tembang alam samar-samar terdengar

Terbang bersam semilir angin

Gemericik air mengalir tanpa batas

Menyejukkan tiap insan memandang

Hati nan tentram seraya meneguk kemurniannya

Tanah subur membentang lebar

Mengepakkan sayap dalam bulir-bulir padi merekah

Manusia-manusia itu tersenyum tulus menggapai tiap helai

Demi kehidupan

Kini…

Kegersangan merayap

Menyergap tiap bagian hingga hancur lebur

Keringnya daun menjadi saksi

Betapa kejamnya manusia-manusia masa kini

Mengikis sampai dasar potensi bumi ini

Tak ada lagi nyanyian menentramkan

Bulir-bulir padi menguncup pasrah

Taukah kalian mengapa???

Bumi kita sedang menangis

Dia menyaksikan tangan-tangan jahat mengoyak raga

Mencabik lapisan-lapisan penting dalam diri

Dia tak kuasa menahan beban

Hingga rasa menyesal menyelimuti diri

Keluarlah!!!

Banjir badang menerjang kota

Longsong mengubur harta manusia

Panas mengikis pori-pori kulit manusia

Dan…

Bumi pun menangis

Dia tak ingin memperlihatkan kesedihan

Tapi beban ini tak kuasa tertahankan…


Depok, 9 Januari 2009

Posted in Jejak Pelangi, Opini Sang Pelangi

HIJAU FISIP-KU, LESTARI ALAMKU

101_3283-2

Lihatlah bumi ini! Hampir 500 juta hingga 1 milyar kantung plastik digunakan di dunia tiap tahunnya. Jika sampah-sampah kantung plastik itu dibentangkan maka akan membungkus permukaan bumi setidaknya hingga 10 kali lipat. Setiap tahunnya, sekitar 600 milyar sampai 1 triliun kantong plastik digunakan di seluruh dunia, diperkirakan setiap orang menghabiskan 170 kantong plastik setiap tahunnya. Inilah salah satu faktor penyebab rusaknya lingkungan hidup yang sampai saat ini masih menjadi permasalahan besar bagi semua warga di Indonesia bahkan kita sebagai mahasiswa harus memikirkan hal tersebut sejak dini, yaitu penggunaan plastik yang semakin meningkat sehingga menimbulkan limbah sampah plastik.

Plastik dan Kehidupan

Pernahkah dalam satu hari saja, kitak tidak menggunakan bahan-bahan yang terbuat dari polimer sintetik seperti plastik misalnya? Tentu saja tidak. Polimer sintetik tidak pernah lepas dalam kehidupan kita semenjak teknologi masuk begitu cepat. Plastik telah menjadi bagian yang erat dan menjadi kebutuhan primer bagi kita. Mulai dari perlengkapan rumah tangga, perlengkapan sekolah, perangkat komputer, telepon, kabel, mainan anak-anak, pembungkus makanan sampai klep jantung buatan, semuanya tidak lepas dari campur tangan polimer sintetik.

Perkembangan yang sangat pesat dari industri polimer sintetik membuat kehidupan kita selalu dimanjakan oleh kepraktisan dan kenyaman dari produk yang mereka hasilkan. Bahkan plastik dianggap sebagai salah satu ciri kemunculan zaman modern yang ditandai dengan kehidupan yang serba praktis dan nyaman.

Sejak tahun 1950-an plastik menjadi bagian penting dalam hidup manusia. Plastik digunakan sebagai bahan kemasan, tekstil, bagian-bagian mobil, dan alat-alat elektronik. Dalam dunia kedokteran, plastik bahkan digunaan untuk menggantikan bagian-bagian tubuh manusia yang sudah tidak berfungsi lagi. Pada tahun 1976 plastik dikatakan sebagai materi yang paling banyak digunakan dan dipilih.

Betapa besar peran plastik dalam kehidupan kita, bahkan sehari saja kita tidak bisa terhindar dari mengkonsumsi plastik. Jika kita tidak memulai untuk mengurangi konsumsi plastik dalam hidup kita, apakah yang akan terjadi beberapa tahun ke depan?

Plastik dan Dampak Lingkungan

Di balik kegunaannya, plastik mengancam kesehatan kita. Kematian jaringan, kanker hati, gangguan perut, kematian bayi dalam kandungan, merupakan dampak dari penggunaan plastik

Untuk lingkungan, plastik ternyata sangat tidak bersahabat, ia merupakan bahan yang tidak dapat dihancurkan dengan cepat dan alami (non-blodegradable). Bahkan, plastik menjadi masalah terbesar yang dihadapi bangsa Indonesia. Kita membutuhkan 1000 tahun agar plastik dapat terurai oleh tanah secara terdekomposisi atau terurai dengan sempurna. Saat terurai partikel plastik akan mencemari lingkungan tanah dan air tanah. Jika dibakar, sampah plastik akan menghasilkan asap beracun yang berbahaya bagi kesehatan, yaitu jika diproses pembakarannya tidak sempurna, plastik akan mengurai di udara sebagai dioksin. Senyawa itu sangat berbahaya bila terhirup manusia. Dampaknya antara lain memicu kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf, dan memicu depresi. Kantung plastik menjadi salah satu faktor penyebab banjir, karena menyumbat saluran-saluran air yang mengakibatkan turbin waduk rusak.

Selain itu, plastik juga berdampak negatif terhadap perubahan iklim. Sejak proses produksi hingga tahap pembuangan, sampah plastik mengemisikan gas rumah kaca ke atmosfer. Kegiatan produksi plastik membutuhkan sekitar 200 juta barel minyak dan 14 juta pohon setiap tahunnya. Proses produksi yang digunakan sampah sangat boros dan tidak ramah lingkungan.

Pada tahap pembuangan di lahan penimbunan sampah (TPA), sampah plastik mengeluarkan gas rumah kaca. Ternyata bahan plastik selain berbahaya terhadap lingkungan juga berdampak pada kesehatan manusia. Botol plastik juga berbahaya bagi perempuan karena dapat menyebabkan kanker payudara. Kanker payudara timbul akibat pengendapan hawa panas dari plastik yang bocor yang mengeluarkan racun lalu bercampur dengan air yang kita minum.

Selain itu fakta membuktikan bahwa di Australia tercatat lebih dari 100.000 hewan terdiri dari burung, ikan paus, anjing laut, dan kura-kura, mati per tahunnya gara-gara menelan atau terbelit sampah plastik. Hal yang mengerikan terjadi setelah badan hewan yang mati terurai, sampah plastik masih tetap bebas ke alam.

Lakukan Sesuatu. Mulailah dari Diri Sendiri!

Laurel David, yang memproduksi film dokumenter bagi Al Gore menyatakan, untuk menyelamatkan planet bumi ini yang terpenting adalah setiap orang berbuat sesuatu. Mulailah dari diri kita sendiri. Di mana pun kita berada, di rumah, di kampus, bahkan terutama di pusat perbelanjaan, lebih dari 17 milyar kantong plastik dibagikan secara gratis oleh supermarket di seluruh dunia tiap tahunnya.

Mahasiswa harus menjadi agen perubahan bagi lingkungannya. Mulailah dari kampus. Kampus tanpa kita sadari merupakan penyumbang besar sampah plastik. Mulailah dari plastik yang berasal dari cover makalah, beningan (transparasi), dan pembungkus makanan. Langkah sederhana yang dapat kita lakukan adalah tidak menggunakan plastik atau mika sebagai cover makalah atau tugas-tugas kuliah dan mencetak tulisan dengan satu kertas secara bolak-balik ataupun menggunakan kertas bekas.

Tolak Kantung Plastik

Katakan tidak, pada petugas swalayan atau supermarket jika mereka memberikan kantung plastik (berlebihan). Untuk itu, bawalah tas kain setiap kali berbelanja karena tas kain selain awet, kuat, dan praktis juga dapat digunakan berulang-ulang. Jika hanya membeli sedikit, masukan barang belanjaan ke dalam tas. Jangan lupa untuk mengingatkan orang-orang di rumah, teman, dan kerabat untuk selalu membawa tas kain saat berbelanja.

Lakukan Kampanye Antiplastik

Masyarakat perlu disadarkan tentang bahaya dan dampak penggunaan plastik. Sebagai mahasiswa yang peduli akan kelestarian lingkungan, upayakanlah untuk menyosialisasikan hal tersebut baik di lingkungan kampus maupun masyarakat sekitar. Selain sosialisasi, adakan seminar dan kajian-kajian ilmiah tentang sampah plastik. Dengan pemahaman yang baik tentang bahaya di balik penggunaan plastik tersebut diharapkan timbul kesadaran untuk melestarikan lingkungan.

Ganti Kantung Plastik Menjadi Kantung Kertas

Sosialisasikan penggunaan kantung kertas yang ramah lingkungan pada pengelola supermarket, mall, dan toko buku. Keuntungan dari penggunaan kantung kertas adalah kantung kertas tidak memerlukan waktu lama untuk menguarai secara alami daripada kantung plastik. Negara-negara seperti Filipina, Australia, Hongkong, Taiwan, Irlandia, Skotlandia, Perancis, Swedia, Jerman, bahkan sampai pemerintah Cina mengeluarkan RUU mengatasi kantong plastik. Bagaimana dengan pemerintah Indonesia?

Hijaukan FISIP Kita

UI yang dikenal sebagai kampus perjuangan rakyat harus memberikan sebuah terobosan dan langkah konkret sebagai bukti kepedulian kita terhadap lingkungan dan bermanfaat bagi masyarakat. Salah satu kampus yang telah menerapkan hal tersebut adalah FISIP, karena di sini kita menerapkan klasifikasi sampah yang dipisahkan berdasarkan bahan dasarnya. Tempat sampah yang terdiri dari tiga tempat yang berbeda warna akan memudahkan mahasiswa untuk membuang sampah yang mudah terurai dan tidak mudah terurai pada tempatnya. Sehingga sampah-sampah yang sulit terurai dan membutuhkan waktu yang lama dapat didaur ulang dan digunakan kembali agar lebih bermanfaat. Selain itu kita juga dapat menggerakkan untuk menanam satu bibit pohon sebulan sekali di daerah sekitar FISIP agar lingkungan terlihat rindang dan sejuk.

Mari kita wujudkan slogan, be agent of cahnge, be green, be FISIP UI!!! Create a green earth, start doing from yourself, invite others with you, minimalize plastic usage!!!!

Referensi

Hadi, Sudharto P, Manusia dan Lingkungan, Semarang: Penerbit Universits Diponegoro, 2000.

Wasesa, Silih Agung, Strategi Public Station, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,2005.

http://akuinginhijau.files.wordpress.com/ diakses tanggal 7 November 2008.

http://ilmuwan.wordpress.com/ diakses tanggal 7 November 2008.

http://kapanlagi.com/clubbing/showread.php?t=17579/ diakses tanggal 9 November 2008.

http://greenpeace.org/seasia/id/news/greenpeace-menyerukan-masyarakat/ diakses tanggal 9 November 2008

http://www.beritaiptek.com/zberita-beritaiptek-2007-09-02-Sampah-Jakarta,-Pengangguran-dan-Peran-Swasta.html diakses tanggal 12 November 2008

http://www.theargus.co.uk diakses tanggal 12 November 2008

Posted in Jejak Pelangi, My Knowledge

SAVE OUR EARTH

arsitek1

lokasi : Gedung Fakultas Teknik Universitas Indonesia  (UI), Depok

“Bangunan ini merupakan salah satu bangunan yg hemat listrik hemat energi”

HEMAT LISTRIK HEMAT ENERGI!!!!

Slogan ini selalu dikomporin oleh pemerintah sampai saat ini. Kita sebagai warga negara yang baik sudah seharusnya sadar dan ikut berpartisipasi. Hari ini, 28 Maret 2009 berpartisipasilah dalam kampanye “Earth Hour Indonesia”

Tahukah Kamu?

  • Jakarta adalah kota di Indonesia yang paling boros listrik, sementara masih ada 47% penduduk Indonesia yang belum mendapat akses listrik
  • Mematikan lampu 1 jam (kurang lebih) di Jakarta = 300MW alias cukup untuk mengistirahatkan 1 pembangkit listrik
  • Tahun 2007, 2 juta orang di Sydney dan 2000 pelaku bisnis berhasil kurangi pemakaian energi-nya sampai 10,2% hanya dengan mematikan lampu dan peralatan elektronik mereka selama 1 jam.
  • 375 kota di 74 negara di dunia komit untuk Earth Hour 2009. Tahun ini juga giliran Indonesia ikutan

EARTH HOUR BISA membuktikan bahwa 1
orang, (minimal mematikan) 1 lampu, (selama) 1 jam, (cukup) 1 hari,
(bergabung dengan rekan-rekan) 1 dunia, KITA BISA MEMBUAT PERUBAHAN!

So…tunggu apa lagi?!?Keep do it (^_^)

Mari kita berpartisipasi untuk malam ini mematikan lampu selama 1 jam mulai jam 8.30 pm sampai 9.30 pm, karena dengan begitu kita bisa menyelamatkan bumi kita. Nggak salah kan kita berbuat seperti ini, toh kita juga butuh bumi untuk berpijak.

Bagi temen-temen yang berminat gabung bersama WWF dalam kampanye EARTH HOUR INDONESIA (Jakarta) sebagai sukarelawan, bisa kirim e-mail ke climate@wwf.or.id beserta data diri dan minat serta kapasitas kalian.

Gimana sih, caranya?!?

Caranya?
Pertemuan koordinasi minimal 1 x sebulan (bisa lebih, lho! Tergantung kebutuhan).

Periode?
3 bulan (Februari 09 – April 09).

Syarat dan ketentuan berlaku?
– Peduli lingkungan!
– Berkomitmen selama waktu yang dibutuhkan.

Yang dibutuhkan:
– Koordinator relawan
– Administrasi/legal
– Website administrator
– Promosi (event)
– Media relations

– Menulis
– Fotografer/videographer
– Penerjemah (Indonesia – Inggris dan sebaliknya)

sumber: http://www.supporterwwf.org