Posted in Goresan Sastra Sang Pelangi, Jejak Pelangi

Angin!

angin pelangi

Pelepas dahaga saat udara tak lagi bersahabat

Penikmat kesejukan di antara rindangnya hijau dan ayunan rumput

Sinar mentari pun terhalang oleh sepoian tenangnya

Coba kau pejamkan matasakan sentuhan lembut menerpa kulit

Rasakan sentuhan lembut menerpa kulit

Segar. Perluh pun rasannya tak ingin cepat menetes

Bila dia hilang tak terjamah, sengatan sang surya makin menggerogoti kulit

Terbakar. Panas. Lembab.

Amarah pun kadang membuncah

Tak satu pun dedaunan berayun

Fatamorgana jalanan makin jelas terlihat menambah pekat

Hai Sang Angin!

Tunjukkan wujudmu, terangi jalan ini

Tiupan dirimu membuat hidup lebih berwarna

Pikiran jernih. Senyum mengembang. Tubuh sehat berseri.

Posted in My Gallery

Ketika Indahnya Pagi Menyapa Penglihatan

Saat mataku terjaga, tak lagi terpejam. Pemandangan indah tersuguh di depan mata. Sinar matahari yang lembut menerpa kulit. Warna emas dari dedaunan dan udara sejuk serta gradasi warna gunung dan langit menyatu. Subhanallah…

Foto ini diambil saat pertama kali ke puncak bareng temen-temen organisasi kampus, FISIPERS, majalah kampus yang diterbitkan dari berbagai jurusan yang ada di lingkup FISIP UI. Nah.. ini pas acara raker, jadi sebelum ke puncak, kita kunjungan ke panti jompo dulu 🙂 Uwooo… ternyata seru ya ke puncak bareng temen-temen, trus nginep 2 hari 1 malam. Rasa kebersamaan dan kekeluargaan terasa banget 😀 I Love U All, teman-teman Fisipers angkatan ketua kak Bogi. hehehe 😀

Posted in Goresan Sastra Sang Pelangi

KETIKA BUMIKU MENANGIS

Dahulu…

Keteduhan menyelimuti

Rindang dedaunan mendayu-dayu

Kicauan lantunan tembang alam samar-samar terdengar

Terbang bersam semilir angin

Gemericik air mengalir tanpa batas

Menyejukkan tiap insan memandang

Hati nan tentram seraya meneguk kemurniannya

Tanah subur membentang lebar

Mengepakkan sayap dalam bulir-bulir padi merekah

Manusia-manusia itu tersenyum tulus menggapai tiap helai

Demi kehidupan

Kini…

Kegersangan merayap

Menyergap tiap bagian hingga hancur lebur

Keringnya daun menjadi saksi

Betapa kejamnya manusia-manusia masa kini

Mengikis sampai dasar potensi bumi ini

Tak ada lagi nyanyian menentramkan

Bulir-bulir padi menguncup pasrah

Taukah kalian mengapa???

Bumi kita sedang menangis

Dia menyaksikan tangan-tangan jahat mengoyak raga

Mencabik lapisan-lapisan penting dalam diri

Dia tak kuasa menahan beban

Hingga rasa menyesal menyelimuti diri

Keluarlah!!!

Banjir badang menerjang kota

Longsong mengubur harta manusia

Panas mengikis pori-pori kulit manusia

Dan…

Bumi pun menangis

Dia tak ingin memperlihatkan kesedihan

Tapi beban ini tak kuasa tertahankan…


Depok, 9 Januari 2009