Semarak awan bertebaran di langit yang membiru
Cerah bagai mentari yang bahagia menampakkan sinarnya
Raut cerita terpancar dari wajah mungilnya
Kasih sayang dan perhatian bertaburan bagai bintang di malam hari

Tawa yang membawa sebuah harapan berupa cinta
Harapan yang membawa sebuah permohonan berupa doa
Terpanjat setiap hari tanpa henti memohon pada Sang Illahi
Biarlah kebahagiaan ini terus mengalir bagai sungai arus liar

Gemuruk petir menyambar di tengah badai dasyat
Cerah hati menjadi gundah gulana
Tak pernah terbersit bahwa alam tak pernah mendukung
Angin kencang membuncah menerpa

Bagai duri yang tertinggal di dada, perih menusuk hingga mati rasa
Beginilah jika sebuah ujian itu harus datang atas nama cinta
Mengalahkan logika, membolak balikkan perasaan haru
Mungkin inilah yang terbaik, Tuhan sedang rindu padamu

Depok, pukul 23.48 WIB sambil ndengerin “Somewhere Only We Know” – Keane. Bahwa tak selamanya cinta itu indah bagai drama korea, bahwa cinta itu juga tak selamanya menyedihkan bagai sinetron Indonesia

Ujian Itu Datang Atas Nama Cinta

Ketika kebahagiaan itu datang lewat rasa
Hati bertaut tanpa mengharap balasan
Perasaan pun tak dapat terucap oleh kata
Hanya senyum simpul menghiasi wajah

 

Beginikah kerja sebuah rasa bahagia?
Tapi tetap ingin berjuang walau abu-abu akhirnya
Antara indah dalam damai atau menyayat dalam ketidakpastian
Biarlah berjalan seiring waktu saja, jangan melawan takdir
Karena bahagia itu sebuah pengorbanan
Ya, membuat orang lain bahagia adalah hakikat kebahagiaan sejati

Depok, pukul 10.15 WIB, ketika beberapa hari merasa diaduk perasaan antara keraguan dan berasumsi kebahagiaan itu akan sirna, ternyata bahagia itu tetap ada.

Ketika Bahagia itu Datang

Posted in Goresan Sastra Sang Pelangi, Jejak Pelangi

Ketika Mengenalmu Pertama Kali

1383943_10202486522427340_2131119946_n

Ketika pertama kali ku mengenalmu

Terpancar kehangatan dari raut wajahmu dan tingkah lakumu

Perhatian dan kasih sayang itu, begitu tulus

Walaupun kita dibedakan suku, ras, status sosial, tapi kita masih diikat oleh keyakinan yang sama

Hati ini tak perlu takut, khawatir, dan gentar

Sakit dan kecewa yang pernah tertancap dalam hingga ke lubuk hati, biarlah tergerus hingga memudar perlahan

Jika kesungguhan hatimu dan perjuanganmu bisa menghapus itu semua

Biarlah air mata ini menangis bahagia

Kesederhanaan ini berarti bila perhatian dan kasih sayangmu selalu terpanjang dari detik ini hingga kita dipisahkan oleh alam

Doa ini terpanjat setiap kubertemu-Nya, biarlah yang lalu berlalu sudah, menatap ke depan tegak berdiri, sampai saat itu tiba, ku melihat dirimu saat pertama kali bertemu

Apa adanya dan tulus ….

Jakarta, 24 Oktober 2013, pukul 16.45,

Ketika udara dingin menyeruak, mawar-mu berdiri kokok di depan mata ini, tak layu tak pudar…

Posted in Goresan Sastra Sang Pelangi, Jejak Pelangi

Sang Penyuka Pagi

Tatkala mentari setengah bersinar

Tak utuh, masih terasa hamparan cahaya

Kesejukan terlalu mendominasi

Kicauan burung gereja bertengger di dahan samar terdengar

Deru laju kendaraan tak tertahan

Polusi pun dihirup sang hijauĀ 

Hingga diri ini dapat menikmati pagi

Hai… penyuka pagi

Kurasa aku pun mulai sadar

Pagi pemberi banyak inspirasi

Ku dapat memandang dengan jelas

Ku dapat merasakan dengan hati

Ku dapat mengecap dengan pasti

Tetap sasaran, karena aku sang penyuka pagi

 

***

Puisi ini tercipta saat duduk di Kopaja 63 menuju Melawai. Pertama kali menikmati pagi tanpa mengeluh kepanasan dan macet. Hingga sempat menulis dan menggoreskan tinta dalam perjalanan. Ternyata bangun lebih awal, datang lebih awal, dan menikmati pejalanan di pagi hari itu menyenangkan. Selanjutnya akan dibuat sebuah habit, siapa tau raga dan jiwa membaik dan toxin dalam tubuh menguap pelan-pelan. Selamat beraktifititas!

Posted in Goresan Sastra Sang Pelangi

Tak Pantaskah Kita Berusaha Memaafkan?

Tak pantaskah kita berusaha memaafkan?
Saat kita tau orang yang kita sayangi berbuat salah?
Saat kita mengerti orang yang kita sayangi menyakiti kita?
Saat kita merasa orang yang kita sayangi mengkhianati kita?
Saat kita sadar orang yang kita sayangi berbohong pada kita?
Awalnya itu pedih. Sadis. Bahkan tak berprikemanusiaan. Tapi..
Apa salahnya kita memaafkan? Mencoba untuk ikhlas bahwa inilah ujian hidup tak sepenuhnya hidup penuh bahagia karena Tuhan Maha Adil. Dia ciptakan rasa senang dan sedih. Rasa sehat dan sakit.
Ingatkah kita? Kesalahan yang kita perbuat yang membuat Ibu kita sedih, jengkel, marah? Apa jawabannya?
Beliau maafkan kita tanpa mengungkit kesalahan itu. Karena rasa sayang itu lebih besar.
Ya.. Seperti Tuhan kita, memaafkan hamba-Nya yang berbuat kesalahan paling besar, karena Dia tahu kita bertobat.
Tak pantaskah kita memaafkan kesalahan orang seperti Tuhan memaafkan umat-Nya?

Betania Gian
*ketika menempuh perjalanan panjang, merenung, mengapa kita hidup? mengapa ada kata maaf?*

Posted in Goresan Sastra Sang Pelangi, My Achievement

Kumpulan Puisi Nasionalis Milik Pelangi

BANGKIT INDONESIA


Jalani hidup penuh juang

Tatap masa depan cerah penuh harapan

Jangan barkan kesalahan buat keputusasaan

Belajar dari pengalaman bangsa

Jangan terusik oleh kesukaran

Hadapilah sebagai tantangan

Berdayakan drimu oleh keberanian

Pelajarilah hal baru dalam hidup

Buat bumi Indonesia bersinar

Indonesia milik kita

Indonesia bukanlah milik mereka

Pemuda bangsa anti anarkisme

Maju bersatu dalam kebersamaan

Kekuatan dalam satu hati

Memandu puncak kejayaan

Bangkitlah Indonesia!!!!

***

IBU PERTIWI

Ibu Pertiwi…

Jika angin tak lagi berhembus

Jika api tak lagi membara

Jika ar tak lagi mengalir

Jika tanah tak lagi membongkah

Apa kita masih dapat berkata?

Tentang hasrat dan milik

Tentang jiwa dan rasa

Tentang dunia yang dipijak nestapa

Tentang duka menyelimuti langkah


Ibu Petiwi…

Masih adakah celah?

Untuk menyimpan gelisah

Untuk menyembunyikan langkah

Tidak, Bu!

Meskipun celah berongga

Dada kita tetap menganga

Meskipun jari tersembunyi

Mata dan telinga tetap ada


Ingatlah…

Wahai Ibu Pertiwi

Kami..,

Putra putri bangsa akan melangkah

Dalam langkah satu dan satu

Bukan melompat

Setelah itu kami terjerat!

***

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

Sinar perjuangan nampak dari balik tirai kegelapan

Masa penderitaan tlah sirna

Tusukan sebilah kemiskinan moralitas

Terbang bersama debu nan hilang


Sinar harapan tlah muncul

Aura kebangkitan menyelubungi Indonesia

Menggema di setiap jiwa bangsa

Kokohkan persatuan raih kejayaan


Sinar keadilan menyongsong

Rakyat papa terangkat dan terlindungi

Tangis darah melebur menjadi tawa ceria

Bersatu padu membangun Indonesia emas

Menggapai puncak kemuliaan bangsa

***

Puisi-puisi ini aku tulis saat menjadi seorang MABA (mahasiswa baru) di Universitas Indonesia dengan mengikuti kegiatan OKK (orientasi kegiatan kampus). Puisi-puisi yang berjiwa nasionalis dan menunjukkan kepekaan kita terhadap bangsa ini.

Silakan berikan tanggapan ya buat puisi-puisiku ini ataupun tulisan-tulisan yang aku buat lainnya. Makasih \^^/

Posted in Goresan Sastra Sang Pelangi

KETIKA BUMIKU MENANGIS

Dahulu…

Keteduhan menyelimuti

Rindang dedaunan mendayu-dayu

Kicauan lantunan tembang alam samar-samar terdengar

Terbang bersam semilir angin

Gemericik air mengalir tanpa batas

Menyejukkan tiap insan memandang

Hati nan tentram seraya meneguk kemurniannya

Tanah subur membentang lebar

Mengepakkan sayap dalam bulir-bulir padi merekah

Manusia-manusia itu tersenyum tulus menggapai tiap helai

Demi kehidupan

Kini…

Kegersangan merayap

Menyergap tiap bagian hingga hancur lebur

Keringnya daun menjadi saksi

Betapa kejamnya manusia-manusia masa kini

Mengikis sampai dasar potensi bumi ini

Tak ada lagi nyanyian menentramkan

Bulir-bulir padi menguncup pasrah

Taukah kalian mengapa???

Bumi kita sedang menangis

Dia menyaksikan tangan-tangan jahat mengoyak raga

Mencabik lapisan-lapisan penting dalam diri

Dia tak kuasa menahan beban

Hingga rasa menyesal menyelimuti diri

Keluarlah!!!

Banjir badang menerjang kota

Longsong mengubur harta manusia

Panas mengikis pori-pori kulit manusia

Dan…

Bumi pun menangis

Dia tak ingin memperlihatkan kesedihan

Tapi beban ini tak kuasa tertahankan…


Depok, 9 Januari 2009